Opini
Beranda » Berita » Ramadhan di Era Algoritma: Belajar dari Laut Mandar

Ramadhan di Era Algoritma: Belajar dari Laut Mandar

Ramadhan di Era Algoritma: Belajar dari Laut Mandar (Muh. Abid)

Oleh: Muhammad Abid.S.FIL.,M.SI (Dosen Komunikasi)

Majalla Sulbar – Ramadhan selalu mengajarkan kita tentang ritme. Tentang jeda. Tentang menahan diri sebelum bereaksi. Namun di era algoritma, ritme itu seperti dipercepat. Notifikasi datang tanpa henti. Linimasa dipenuhi ceramah singkat, potongan ayat, kutipan hadis, hingga perdebatan keagamaan yang tak jarang memanas.

Ramadhan kali ini tidak hanya hadir di masjid dan ruang keluarga, tetapi juga di layar ponsel. Ia mengalir melalui platform digital yang dikendalikan oleh sistem komputasional bernama algoritma, sebuah mekanisme yang bekerja diam-diam, menentukan apa yang kita lihat, siapa yang kita dengar, dan isu apa yang terasa penting.

Sebagai orang yang tumbuh dalam lanskap budaya Mandar khususnya di daerah pesisir, budaya yang akrab dengan laut, kita sering membayangkan algoritma seperti arus samudra, tidak selalu tampak di permukaan, tetapi menentukan arah pergerakan. Jika tidak memahami arus itu, kita mudah terombang-ambing. Dalam tradisi Mandar, laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan ruang pengetahuan. Para pelaut memahami arah angin, membaca gelombang, dan menimbang waktu sebelum mengembangkan layar.

Terdapat kesadaran bahwa laut tidak bisa dilawan dengan gegabah, tapi harus dipahami. Nilai kehati-hatian itu terasa relevan ketika kita menghadapi ruang digital hari ini. Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan: semakin sering sebuah konten diklik, dibagikan, dan diperdebatkan, semakin tinggi ia diangkat ke permukaan. Konten yang memancing emosi sering kali lebih diutamakan dibandingkan konten yang mengajak refleksi. Akibatnya, diskursus Ramadhan pun rentan terseret ke pusaran sensasi.

Bersama Gubernur Sulbar, Ketua KONI Sulbar Kunjungi Kawasan Transmigrasi Tanjung Cina di Pasangkayu 

Potongan ceramah yang provokatif lebih cepat viral daripada penjelasan yang utuh. Perdebatan hukum fikih yang keras lebih mudah menyebar dibandingkan ajakan memperbaiki diri secara sunyi. Padahal, Ramadhan mengajarkan kita untuk memperlambat diri. Untuk menahan lapar, menahan amarah, dan menahan lisan. Ironisnya, di ruang digital, justru impuls untuk bereaksi sering kali semakin kuat.

Masyarakat Mandar mengenal konsep malaqbiq, kemuliaan akhlak yang tercermin dalam tutur kata dan perilaku. Seseorang disebut malaqbiq bukan karena ia paling keras berbicara, melainkan karena ia paling terjaga sikapnya. Ia tahu kapan harus menyampaikan pendapat, dan kapan memilih diam demi menjaga martabat bersama.

Di era algoritma, nilai ini terasa semakin penting. Ruang digital mendorong kecepatan. Kita digoda untuk segera berkomentar, membagikan, atau membantah. Jempol sering kali lebih cepat daripada pertimbangan. Berapa banyak perdebatan keagamaan di bulan Ramadhan yang berubah menjadi ajang saling merendahkan? Berapa banyak informasi yang dibagikan tanpa verifikasi, hanya karena sesuai dengan keyakinan pribadi?

Jika puasa adalah latihan pengendalian diri, maka pengendalian impuls digital seharusnya menjadi bagian darinya. Menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya adalah bentuk kejujuran. Menolak ikut dalam perundungan digital adalah wujud menjaga kehormatan sesama.

Malaqbiq dalam konteks kekinian mungkin berarti: tetap santun meski berbeda pandangan, tetap hati-hati meski merasa benar, dan tetap rendah hati meski didukung banyak orang di linimasa. Nilai lain dalam budaya Mandar adalah sipamandaq—saling menguatkan dalam relasi sosial. Komunitas dibangun di atas kesadaran bahwa martabat seseorang terhubung dengan martabat bersama. Kritik disampaikan untuk memperbaiki, bukan mempermalukan.

Gubernur Sulbar Tegaskan Sawit Komoditas Strategis, Penegakan Hukum Perusahaan Diperketat

Di ruang digital, semangat ini kerap tergerus. Algoritma cenderung memperkuat polarisasi. Kita lebih sering dipertemukan dengan pandangan yang serupa dengan kita, dan jarang berjumpa dengan perspektif berbeda secara utuh. Ketika perbedaan muncul, ia sering hadir dalam bentuk potongan yang terdistorsi. Akibatnya, ruang publik digital menjadi mudah panas. Perbedaan tafsir, pilihan metode ibadah, hingga preferensi politik keagamaan dapat berubah menjadi konflik terbuka.

Ramadhan seharusnya menjadi ruang untuk merawat empati. Puasa membuat kita merasakan lapar, agar kita memahami yang kekurangan. Namun empati tidak hanya soal perut yang kosong, melainkan juga soal kesediaan mendengar. Sipamandaq di era algoritma bisa berarti membangun percakapan yang saling menguatkan. Bukan sekadar memenangkan argumen, tetapi menjaga persaudaraan.

Budaya Mandar kaya dengan tradisi lisan. Nasihat tidak disampaikan secara tergesa-gesa. Ia hadir dalam konteks, relasi, dan penghormatan. Ada ruang untuk mendengar hingga selesai sebelum menyimpulkan. Bandingkan dengan budaya potongan konten hari ini. Ceramah satu jam diringkas menjadi satu menit. Kalimat yang terlepas dari konteks dapat menimbulkan tafsir yang berbeda. Kompleksitas ajaran agama dipadatkan menjadi slogan yang mudah dibagikan.

Digitalisasi tentu membawa manfaat. Dakwah menjadi lebih luas jangkauannya. Akses terhadap ilmu semakin terbuka. Namun tanpa kesadaran kritis, kita bisa terjebak dalam ilusi kedalaman. Kita merasa telah memahami hanya karena telah menonton banyak potongan video. Ramadhan mengajarkan kesabaran, sementara algoritma mendorong percepatan. Di sinilah kita perlu memilih ritme mana yang hendak kita ikuti.

Algoritma bukanlah musuh. Ia hanyalah sistem yang merespons perilaku kolektif kita. Seperti laut, ia memiliki arus yang bisa membawa manfaat jika dipahami, tetapi juga bisa menenggelamkan jika dihadapi tanpa kesiapan. Sebagaimana pelaut Mandar yang tidak serta-merta menyalahkan laut ketika ombak tinggi, kita pun tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teknologi. Yang diperlukan adalah kecakapan membaca arah, serta kompas nilai yang kokoh.

Tingkatkan Layanan Digital, KominfoSS Sulbar Fasilitasi Layanan Penyediaan Akun Zoom bagi OPD

Ramadhan memberi kita kompas itu: pengendalian diri, kejujuran, empati, dan kesadaran akan batas. Nilai-nilai budaya seperti malaqbiq dan sipamandaq memperkaya kompas tersebut dengan akar lokal yang konkret. Di tengah derasnya arus konten religius—yang sebagian mencerahkan, sebagian memecah—kita ditantang untuk tetap reflektif. Tidak semua yang viral adalah yang paling benar. Tidak semua yang ramai adalah yang paling bermakna. Mungkin, di era algoritma ini, bentuk puasa yang paling sulit bukan lagi sekadar menahan lapar, tetapi menahan diri dari reaktivitas.

Menahan diri untuk tidak larut dalam kemarahan digital. Menahan diri untuk tidak tergesa-gesa menilai. Seperti pelaut yang memahami kapan harus mengembangkan layar dan kapan harus menurunkannya, kita pun perlu belajar kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Tanpa itu, kita mudah terseret oleh gelombang viralitas yang tak pernah benar-benar tenang.

Ramadhan datang setiap tahun sebagai pengingat. Bukan hanya tentang kewajiban ritual, tetapi tentang pembentukan karakter. Di era algoritma, pembentukan itu diuji di ruang baru: ruang digital yang tak kasat mata, namun sangat nyata dampaknya. Jika kita mampu menjaga malaqbiq dalam tutur digital dan merawat sipamandaq dalam perbedaan, maka Ramadhan tidak sekadar hadir sebagai tren musiman di linimasa.

Ia menjadi daya tahan moral di tengah arus dan seperti laut yang selalu kembali pada pasang dan surutnya, semoga kita pun kembali pada kesadaran: bahwa teknologi boleh berubah, arus boleh berganti, tetapi nilai yang menuntun arah tidak boleh hilang.(*)