
Oleh : Muhammad Abid Alimuddin Lidda (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Majalla Sulbar, Opini – Kepergian Mayor Jenderal Purnawirawan Salim S Mengga meninggalkan luka yang dalam bagi masyarakat Sulawesi Barat, khususnya di kalangan generasi muda Mandar.
Sosok Salim S Mengga bukan hanya seorang pemimpin yang disegani, tetapi juga seorang panutan yang menjadi cahaya penuntun bagi orang terdekat yang ditinggalkan. Salim S Mengga adalah simbol keteguhan dan keberanian, dan kini, setelah beliau memilih untuk beristirahat dalam tidur keabadian, cahaya tersebut terasa semakin padam. Namun, sejatinya, cahaya yang Ia nyalakan tidak pernah benar-benar padam di hati mereka yang pernah merasakan keteladanannya.
Di tengah krisis identitas dan pesatnya laju teknologi yang kerap menggeser makna dan nilai adab, generasi muda Mandar sangat membutuhkan sosok yang mampu memberikan pencerahan dan arahan.
Salim S Mengga adalah contoh nyata dari seorang pemimpin yang menjalani hidupnya dengan prinsip yang kuat, kejujuran, dan keberanian untuk berbuat benar.
Salim S Mengga menunjukkan bahwa kesuksesan sejati bukanlah soal kekayaan atau popularitas, melainkan tentang kesetiaan pada nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu ditanah Mandar.
Namun kini, sosok yang selama ini menjadi penuntun bagi generasi muda itu telah tiada. Keteladanan beliau dalam memegang prinsip To Mandar dan keberaniannya dalam menegakkan kebenaran kini hanya bisa dikenang.
Meski beliau telah meninggalkan dunia ini, nilai-nilai yang diperjuangkan tetap hidup dan mengalir di hati setiap anak muda Mandar. Keberanian dan keteguhan beliau menjadi warisan yang tak ternilai, yang akan terus menjadi pegangan bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan perjuangan hidup dengan integritas dan prinsip yang kokoh.
Bagi pribadi, kehilangan ini sangat mendalam. Almarhum Salim S Mengga bukan hanya sosok yang dihormati, tetapi juga tempat berdiskusi, berbagi pemikiran, dan belajar banyak tentang sejarah revolusi Indonesia yang penuh dengan pelajaran hidup.
Sosoknya adalah sumber pengetahuan yang tak tergantikan, dan kini, dengan kepergiannya, meninggalkan kekosongan yang sulit diisi. Mendiang Salim S Mengga mengingatkan saya akan pentingnya melanjutkan pencarian pengetahuan dengan semangat yang sama, meskipun Ia tidak lagi ada di sini untuk memberi pencerahan langsung.
Bagi generasi muda Mandar Sulawesi barat, kehilangan ini adalah sesuatu yang sangat mendalam. Salim S Mengga adalah cahaya yang mampu menunjukkan jalan di tengah kegelapan, dan kini kita harus belajar untuk melanjutkan perjalanan hidup ini tanpa cahaya tersebut.
Namun satu hal yang pasti—meskipun dirinya telah pergi, teladannya tetap hidup. Setiap nilai yang beliau pegang teguh, setiap langkah yang ditempuhnya, penuh dengan kesetiaan pada kebenaran, akan terus menjadi kompas moral bagi generasi penerus.
Meskipun Salim S Mengga kini telah beristirahat di Kalibata, cahaya yang dinyalakan dalam kehidupan generasi muda Mandar tidak akan pernah benar-benar padam. Warisan keteladanan beliau akan terus menginspirasi dan menjadi sumber kekuatan.
Generasi berikutnya akan selalu mengenang beliau sebagai sosok yang memegang teguh prinsip To Mandar, yang tidak pernah tergoyahkan meskipun dunia terus berubah. Dan selama nilai-nilai yang beliau ajarkan tetap hidup, beliau akan selalu menjadi penuntun yang abadi di hati kami semua, Selamat jalan Puang, Selamat jalan Jendral, di akhir tulisan ini kupersembahkan Puisi untukmu jendral-ku.
Perpisahan untuk Sang Cahaya
Sang Cahaya yang pernah menerangi langkah kami, Kini telah berpulang ke keabadian yang abadi.
Namun sinarmu, takkan pernah padam, Ia akan terus hidup di hati yang merindukan.
Bagaikan pelita yang tak pernah redup, Engkau terus menyinari jalan kami, Dengan keteguhan, kejujuran, dan Amanah Yang tak lekang oleh waktu dan ruang.
Kini, kami melanjutkan langkah ini, Bukan tanpa arah, karena cahaya mu masih ada Menuntun kami untuk tetap pada kebenaran, Dalam setiap keputusan, dalam setiap tindakan.
Selamat jalan, Sang Cahaya, Namamu akan tetap hidup di setiap jejak yang kami tinggalkan.
Hati kami tidak akan lupa, Karena engkau adalah pelita yang tak pernah padam.***
