Opini Taupik
Beranda » Berita » Toleransi Natal dari Dasar Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika

Toleransi Natal dari Dasar Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika

Oleh : Taupik. C, S.Pd.I., M.Si

Majalla Sulbar – Sebagai Muslim, selayaknya memahami bahwa agama Islam mengajarkan untuk menjaga perdamaian, menghormati sesama, dan bersikap baik terhadap semua orang. Mengucapkan “Selamat Hari Natal” kepada teman atau tetangga yang merayakannya bukan berarti ikut merayakannya, tetapi merupakan bentuk penghormatan dan toleransi terhadap keyakinan mereka.

Di Indonesia, kita hidup dalam keberagaman, dengan berbagai agama dan budaya. serta menjaga kerukunan dan persaudaraan antar umat beragama.

Memberikan ucapan Natal adalah salah satu cara sederhana untuk menunjukkan kepedulian dan rasa hormat, sekaligus menguatkan persatuan, seperti yang diajarkan Pancasila dan nilai Bhinneka Tunggal Ika: berbeda keyakinan, tetapi tetap satu sebagai bangsa.

Dengan kata lain, ucapan kita bukan tentang mengubah keyakinan, tetapi tentang menghargai perbedaan dan mempererat hubungan antar sesama manusia. Dalam semangat itu, saya percaya toleransi dan saling menghormati adalah fondasi bagi kehidupan yang harmonis.

Sulbar Damai: Gubernur Suhardi Duka Ajak Perkuat Toleransi dan Solidaritas

Natal adalah hari yang sakral bagi umat Kristiani, sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus. Namun, di Indonesia yang beragam ini, perayaan Natal bukan hanya menjadi hak umat Kristiani semata, tetapi juga menjadi momen yang mencerminkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama.

Pancasila sebagai dasar negara kita menegaskan pentingnya sikap saling menghormati. Terutama sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, mengajarkan kita untuk menghargai keyakinan setiap individu. Dalam konteks Natal, sila ini menekankan bahwa kita harus menghormati umat Kristiani merayakan hari besar mereka tanpa diskriminasi atau gangguan.

Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, mendorong kita untuk bersikap adil dan beradab dalam interaksi sosial. Memberikan ucapan selamat Natal, membantu sesama, atau ikut merasakan sukacita perayaan adalah wujud nyata penerapan sila ini.

Selain itu, Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu” menjadi landasan moral bagi bangsa Indonesia untuk menjaga kerukunan. Perbedaan agama, budaya, dan tradisi harus dijadikan kekayaan, bukan sumber konflik.

Dengan memahami makna Bhinneka Tunggal Ika, perayaan Natal bukan hanya dirayakan oleh umat Kristiani, tetapi juga bisa menjadi momentum bagi seluruh masyarakat untuk mempererat persaudaraan.

Penegak Hukum Kalah Dihadapan Premanisme

Dengan berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, toleransi terhadap perayaan Natal berarti menghormati hak setiap orang untuk beribadah, menjaga suasana damai, serta memperkuat rasa kebersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua agama dan budaya, di mana perbedaan menjadi kekuatan, bukan pemisah.*