
Majalla Sulbar — Kegiatan Dialog Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pemuda Peduli Pendidikan dan Kesejahteraan (YP3K) Sulawesi Barat bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STAIN Majene berlangsung dengan penuh antusias di Smart Laboratorium STAIN Majene, Selasa, 14 April 2026.
Mengangkat tema “Panggung Toleransi Budaya Mandar dan Dialog antar Budaya”, kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari pegiat budaya, akademisi, hingga perwakilan pemerintah daerah.
Muhammad Ridhai sebagai narasumber dalam dialog tersebut menyoroti pentingnya digitalisasi cerita rakyat sebagai upaya pelestarian budaya di era modern.
Ia menjelaskan bahwa cerita-cerita rakyat Mandar memiliki nilai historis dan kearifan lokal yang tinggi, namun terancam hilang jika tidak segera didokumentasikan dan disebarluaskan melalui platform digital.
Selain itu, pembahasan juga mengarah pada penguatan industri kreatif berbasis budaya lokal.
Ia menekankan bahwa budaya Mandar memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kreatif, baik dalam bentuk konten digital, seni pertunjukan, maupun kerajinan yang bernilai ekonomi.
Rektor STAIN Majene, Prof. Wasilah Sahabuddin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan dialog kebudayaan ini sangat penting sebagai ruang refleksi dan penguatan identitas budaya di tengah arus globalisasi.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjadi pusat pengembangan dan pelestarian budaya lokal, sekaligus mendorong generasi muda agar lebih aktif mengenal dan menghidupkan kembali warisan budaya daerahnya.
“Dialog seperti ini menjadi sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif, khususnya generasi muda, agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri,” ujarnya.
Kegiatan ini juga memunculkan refleksi personal dari peserta. Salah satu peserta mengungkapkan perasaannya yang tersentuh saat mengikuti dialog tersebut. Ia mengaku lahir dari keluarga Mandar, namun belum mampu berbahasa Mandar secara aktif.
“Saya merasa tersinggung dalam arti tersadar. Saya lahir di Mandar, orang tua saya Mandar, tetapi saya belum bisa berbahasa Mandar dengan baik. Ini menjadi refleksi bagi saya untuk lebih belajar dan menghargai budaya sendiri,” ungkapnya.
Dialog kebudayaan ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong langkah konkret dalam pelestarian budaya Mandar melalui pendidikan, digitalisasi, serta penguatan ekosistem industri kreatif lokal.(*)
