
Oleh: Muhammad Abid (Akademisi)
Majalla Sulbar – Setahun lebih kepemimpinan Pemerintahan Kabupaten Polewali Mandar di bawah kepemimpinan Samsul Mahmud dan Andi Nursami Masdar (Assami) mencatatkan tonggak sejarah penting yang patut diapresiasi secara objektif.
Di tengah keterbatasan fiskal daerah yang kerap membelit banyak kabupaten di Indonesia, Pemkab Polman secara konsisten membuktikan komitmen politik anggarannya yang kuat melalui penuntasan utang pihak ketiga hingga mencapai sekitar Rp144 miliar.
Langkah berani ini bukan sekadar urusan angka di atas kertas atau administrasi keuangan semata, melainkan sebuah prestasi moral yang krusial dalam memulihkan kredibilitas pemerintah daerah.
Keberhasilan melunasi tumpukan utang masa lalu tersebut berhasil memulihkan kembali kepercayaan para rekanan, kontraktor, dan dunia usaha lokal terhadap tata kelola keuangan Pemkab Polman.
Selama bertahun-tahun, ketidakpastian pembayaran menjadi momok yang melemahkan gairah ekonomi daerah.
Dengan diselesaikannya kewajiban finansial ini, pemerintah membuktikan bahwa disiplin fiskal dan keberpihakan terhadap kepatuhan hukum anggaran dapat berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan hak-hak dasar aparatur sipil negara maupun pelayanan publik.
Namun, kerja keras pemerintahan Assami tentu belumlah usai dan justru baru memasuki babak yang sesungguhnya. Keberhasilan menuntaskan beban masa lalu ini kini melahirkan tantangan baru sekaligus peluang emas yang luar biasa: bagaimana mengawal ruang fiskal yang kini jauh lebih longgar agar benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat banyak.
Ruang anggaran yang tadinya tersedot untuk membayar cicilan dan tunda bayar kini dapat dialirkan secara penuh untuk mengakselerasi pembangunan daerah yang sempat tertunda.
Ke depan, fokus pembangunan Polman pasca-pelunasan utang ini mutlak diarahkan pada sektor-sektor esensial yang langsung menyentuh hajat hidup orang banyak. Infrastruktur dasar seperti konektivitas sentra produksi pertanian, perbaikan jalan poros desa, serta peningkatan fasilitas umum harus menjadi prioritas utama yang dikebut.
Terlebih, Polman memiliki peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan utama di Provinsi Sulawesi Barat yang membutuhkan sokongan penuh dari anggaran daerah, mulai dari optimalisasi jaringan irigasi hingga penyediaan sarana produksi yang memadai bagi para petani.
Di sisi lain, ujian kepemimpinan hari ini tidak hanya diuji dari segi kemampuan mengelola keuangan daerah, tetapi juga dari cara menghadapi anomali alam yang kian nyata. Tantangan terberat yang tengah membayangi Kabupaten Polman saat ini adalah ancaman musim kemarau yang berkepanjangan.
Fenomena iklim ini membawa dampak buruk bagi sektor pertanian, memicu ancaman gagal panen, serta berpotensi menimbulkan krisis air bersih yang meresahkan masyarakat di berbagai wilayah kecamatan.
Menghadapi situasi darurat tersebut, langkah taktis yang tengah dirumuskan dan dijalankan oleh pemerintah daerah patut didukung penuh. Program mitigasi kekeringan lahan, distribusi pompa air secara masif ke kantong-kantong produksi, serta penyiapan armada tangki air bersih bagi wilayah yang terdampak krisis adalah wujud kehadiran negara di tengah kesulitan rakyat. Pemerintah tidak boleh bekerja sendirian; sinergi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan agar intervensi penanganan kemarau ini tepat sasaran.
Selain mitigasi sektor hulu pertanian, stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat juga menjadi benteng pertahanan yang wajib dijaga. Ancaman gagal panen akibat kemarau panjang berisiko mendongkrak laju inflasi daerah dan membebani ekonomi keluarga prasejahtera.
Oleh karena itu, langkah preventif melalui operasi pasar murah, penyaluran cadangan pangan pemerintah, serta pengawasan distribusi logistik harus terus digalakkan secara konsisten demi menjaga stabilitas harga di tingkat pasaran lokal.
Momentum kebangkitan Polewali Mandar hari ini membutuhkan kolaborasi yang erat, kritis, dan konstruktif dari seluruh elemen masyarakat. Apresiasi atas tuntasnya beban utang harus diiringi dengan fungsi pengawalan kebijakan publik yang berkelanjutan agar setiap rupiah anggaran benar-benar berbuah kesejahteraan.
Dengan sinergi yang kokoh antara pemerintah, legislatif, dan seluruh rakyat, kita optimis Polewali Mandar mampu keluar dari tekanan masa lalu, tangguh menghadapi krisis iklim, dan melangkah pasti menuju masa depan yang lebih gemilang.(*)
